Tuesday, March 18, 2014

survei menunjukkan mayoritas warga DKI setuju pencapresan Jokowi.

Banyak pihak bersuara miring soal pencapresan Gubernur DKI Jokowi. Namun faktanya, survei menunjukkan mayoritas warga DKI setuju pencapresan Jokowi.

Survei yang dilakukan oleh lembaga survei Indikator Politik pimpinan Burhanuddin Muhtadi menunjukkan bahwa 69% warga DKI mendukung pencapresan Jokowi. Bahkan di tingkat nasional masyarakat yang setuju dengan pencapresan Jokowi mencapai 76%.

"Sekitar 67% warga nasional mendukung Jokowi untuk dicalonkan sebagai Wakil Presiden yang akan datang, tapi dukungan yang lebih besar jika Jokowi dicalonkan sebagai calon presiden. Penilaian ini tidak banyak berbeda dengan warga DKI secara khusus," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, di kantornya Jalan Cikini V, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/3/2014).

Survei ini dilakukan Indikator Politik bekerjasama dengan Rumah Kebangsaan. Survei digelar dalam kurun waktu 18 Januari - 2 Februari 2014. Survei ini menggunakan 1.720 sampel dengan margin of error ± 2,4% pada tingkt kepercayaan 95%. Untuk kebutuhan analisis, dilakukan oversample di DKI Jakarta sebanyak 330 responden, total sampel secara keseluruhan 2.050 responden.

Berikut tingkat persetujuan warga nasional dan DKI soal pencapresan Jokowi:

Setujukah anda Jokowi jadi calon presiden?

Tingkat nasional

Sangat setuju: 40%
Cukup setuju: 36%
Kurang setuju: 10%
Tidak setuju: 5%
Todal tahu: 9%

DKI Jakarta

Sangat setuju: 33%
Cukup setuju: 36%
Kurang setuju: 17%
Tidak setuju: 10%
Tidak tahu: 4%

Joko Widodo akhirnya resmi menjadi calon presiden

Joko Widodo akhirnya resmi menjadi calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Bersedia menjadi calon presiden di saat tugasnya sebagai Gubernur Jakarta belum selesai, Jokowi dicap lebih mementingkan partai.

Pria yang mendapat gelar wali kota terbaik ketiga dunia dari Yayasan Wali Kota Sedunia (The City Mayors Foundation) saat memimpin Kota Solo itu mengaku menjadi calon presiden merupakan tugas berat yang harus diembannya. “Sangat berat,” kata Jokowi.

Jokowi pun menepis anggapan, dengan bersedia menjadi capres, ia lebih mementingkan partai daripada rakyat. “Bukan seperti itu,” ujarnya dalam fokus majalah detik edisi 120.

Berikut ini wawancara dengan Joko Widodo dalam dua kesempatan, setelah mengunjungi kompleks rumah Si Pitung dan saat berada di rumah dinasnya, Jumat, 14 Maret 2014.

Anda menerima mandat Ketua Umum PDI Perjuangan untuk menjadi capres…. Ini semua masih dalam proses. Yang jelas, kita ingin konsentrasi semuanya ke pemilu legislatif 9 April terlebih dulu, bagaimana memenangkannya dengan persentase di atas 20 persen. Sehingga semuanya harus bekerja keras, baik kader partai, relawan, maupun semuanya yang memberikan dukungan.

Anda dicap lebih mementingkan amanat partai daripada amanat rakyat Jakarta. Bagaimana tanggapannya? Bukan seperti itu. Saya kira konstitusi memperbolehkan (saya menjadi capres). Peraturanmemperbolehkan. Saya kira itu.

Prosesnya seperti apa sehingga Anda bersedia jadi capres? Ini kan bukan masalah Jokowi. Ini kan masalah rakyat. Masalah bangsa dan negara. Tidak gampang menerima amanat seperti itu, tidak mudah mendapatkan mandat seperti itu. Ini sebuah mandat kepercayaan yang diberikan kepada saya dari Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri. Sangat berat.

Penyebab tidak maksimal pengobatan serangan jantung pada wanita


Serangan jantung juga bisa terjadi pada wanita. Sayangnya, penanganan pada wanita dengan serangan jantung seringkali terlambat hingga menyebabkan tidak maksimalnya pengobatan. Mengapa?

Menurut studi yang dilakukan peneliti di McGill University di Montreal, serangan jantung sering salah didiagnosis dengan gangguan kecemasan yang sering dialami wanita, demikian dikutip dariMedindia, Selasa (18/3/2014).

Untuk studinya ini, peneliti mengkaji perbedaan jenis kelamin terkait angka kematian pada wanita dan pria yang diakibatkan serangan jantung koroner akut. Mereka meminta 1.123 pasien usia 18-55 untuk mengisi survei setelah dirawat di 24 RS di Kanada, satu RS di AS, dan satu RS di Swiss.

Responden wanita dalam studi ini umumnya berpendapatan rendah dan lebih mungkin terkena diabetes, hipertensi, dan riwayat keluarga dengan penyakit jantung. Mereka juga memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi ketimbang pria.

Peneliti mencatat rata-rata pasien mendapat akses cepat electrocardiograms (EKG) untuk memeriksa irama jantung dan fibrinolisis untuk mencegah pembekuan darah pada wanita. Untuk pasien wanita rata-rata butuh waktu 15 menit dan 28 menit.

Sedangkan pada pria dibutuhkan waktu 21 menit dan 36 menit. Para peneliti berasumsi tingginya kecemasan pada wanita adalah penyebab utama adanya perbedaan itu. Dikatakan pula, pengobatan dini untuk serangan jantung juga diberikan untuk mencegah kerusakan pada otot jantung.

"Pasien dengan rasa cemas yang datang ke UGD dengan nyeri dada yang bukan tanda penyakit jantung kebanyakan adalah perempuan dan prevalensi sindrom jantung koroner akut lebih rendah di kalangan wanita muda ketimbang pria muda," papar pemimpin studi, Louise Pilote.

Ia menambahkan, temuan ini bisa mendukung adanya deteksi dini bagi penyakit jantung jika ada wanita yang kerap merasa cemas dan nyeri di dada. Penelitian ini sudah dipublikasikan dalam Canadian Medical Association Journal.

ketinggian pesawat menghalangi telepon genggam milik para penumpang untuk terhubung dengan base station di daratan.


Kuala Lumpur - Keberadaan pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 hingga saat ini masih misterius. Muncul pertanyaan mengapa para penumpang pesawat tersebut tidak menggunakan telepon genggam mereka ketika pesawat menghilang.

034958_masterkahir.jpgPertanyaan ini muncul dan merujuk pada tragedi 11 September 2001 lalu ketika empat pesawat dibajak namun beberapa penumpang di dalamnya masih bisa menggunakan telepon genggam mereka dan menghubungi dunia luar. Mengapa hal ini tidak terjadi pada MAS MH370? 

Seperti dilansir news.com.au, Selasa (18/3/2014), jika melihat pada tragedi 11 September, empat pesawat yang dibajak tersebut terbang pada ketinggian rendah menuju ke sasaran. Namun dalam kasus MAS MH370, diketahui bahwa pesawat tersebut terbang cukup tinggi.

Radar militer menunjukkan bahwa MAS MH370 sempat terbang pada ketinggian 45 ribu kaki kemudian berbelok ke arah barat sebelum akhirnya turun pada ketinggian 23 ribu kaki.

Vincent Lau yang merupakan profesor elektronik yang ahli pada komunikasi wireless dari University of Science and Technology di Hong Kong menjelaskan bahwa ketinggian pesawat menghalangi telepon genggam milik para penumpang untuk terhubung dengan base station di daratan.

Seorang ahli komunikasi wireless lainnya, Lam Wong-hing menuturkan bahwa telepon genggam biasanya mengirimkan transmisi sebesar 1 watt atau kurang dari itu, sedangkan base station sering mengirimkan transmisi lebih 20 watt.

Gabungkan disparitas tersebut dengan badan pesawat yang terbuat dari logam yang jelas-jelas mengurangi sinyal telepon genggam. Menurut Lam, telepon genggam di dalam MAS MH370 bisa gagal mengirimkan pesan meskipun dia bisa menerima sinyal luar.

Pertanyaan lain meuncul mengenai fasilitas telepon satelit di kelas bisnis pesawat MAS MH370. Mengapa tidak ada penumpang yang menggunakannya?

Menurut laporan New York Times, telepon di udara merupakan bagian dari sistem hiburan dalam pesawat. Jika sistem tersebut dimatikan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, maka telepon satelit tersebut juga tidak bisa bekerja.